Saturday, December 1, 2012

INTERNET DAN FANATISME SEPAKBOLA PADA ANAK

Sebetulnya ingin menulis hal ini sejak tahun lalu. Diingatkan kembali dengan kejadian-kejadian yang terus-menerus berseliweran dalam komentar anak dan perilaku anak terhadap fanatisme sepakbola yang terjadi di kalangan siswa Sekolah Dasar.

Seringkali, orangtua bahkan saya sebagai pendidik, sering terkecoh dengan hal ini. Orangtua bahkan saya tidak akan menganggap jika menyukai sepakbola adalah hal negatif, tentu saja, dan jika ada yang bertanya pada anak, "Kamu sedang suka apa sekarang?" semisal jawaban anak, "Sepakbola." tidak akan menjadi masalah dalam pikiran kita, sebab sepakbola adalah olahraga. Permasalahan yang ditemukan dan tidak asing lagi, ialah fanatisme di usia dini inilah yang jadi bibit perkaranya.

Saya menemani semua kelas, yakni pendidikan melalui musik. Tahun lalu tugas saya, mengarahkan anak agar mencintai lingkungan dan berbuat yang semestinya kita lakukan pada lingkungan kita seperti menanam dan lain sebagainya. Tidaklah begitu sulit, sebab pada dasarnya anak-anak memiliki perasaan yang sangat dekat dengan alam. Pun berbeda ketika saya menangani anak-anak di hari ini yang mengonsumsi musik yang beredar di lingkungan rumah terutama konsumsi TV, yakni lagu dengan lirik-lirik dan attitude musisi yang tidak pantas dikonsumsi anak dan ditiru anak; hal ini pun bisa diatasi dengan pendekatan dengan mengajak anak sering bercermin melalui karya lagu yang mereka buat, sehingga anak mampu memelajari apa yang pantas dilakukan dan dikonsumsi oleh mereka.

Ada satu contoh masalah yakni ketika saya mengajukan pertanyaan di kelas,

"Teman-teman, bagaimana kalau kita buat lagu? Lagu apa ya yang kira-kira asik kita bahas?"

"Sepakbola, Kak!" sebagian anak menjawab

"Bukannya kita sudah bikin lagu tentang sepakbola yang sportif di tahun lalu? Ada ide lain?"

"Mafia sepakbola, Kak. Kan agak beda..." saya mengernyit dahi tau apa anak-anak ini tentang politik di belakang bisnis sepakbola? jadi saya pancing saja dengan pertanyaan lagi.

"Apa alasannya? Kenapa harus mafia? Kenapa bukan tentang sepakbola yang bikin bangga dan buat kalian bersemangat berprestasi, misalnya?"

"Banyak, Kak. Transfer pemain itu akan melalui mereka, lalu..." bla bla bla... Saya pikir mereka baru berusia 9 atau 10 tahun!  

Saya tidak mempermasalahkan pengetahuan mereka. Namun kita semua sebagai orangtua dan pendidik harus mengingat ini: "Tau belum tentu mengerti, mengerti belum tentu paham, paham belum tentu melakukannya, melakukannya belum tentu mengerti." Hal inilah yang menjadi pedoman bahwa fenomena fanatisme sepakbola di hari ini, seperti halnya seks dan agama, yakni anak di hari ini mestilah mengenal pendidikan sejak dini terutama untuk Football Education jika berhadapan dengan fanatisme yang berdampak negatif; seperti yang ditemui dan tidak asing lagi yakni rasisme, chauvinisme, mental holigan yang menjadikan mereka keras kepala dan tidak terbuka, tentunya dampak psikologis yang sangat penting untuk anak menjadi terganggu yang semestinya bisa berkembang dengan baik... terutama dalam pola pikir anak yang mestilah lebih banyak belajar dari bermain, bukan hanya cukup mengetahui saja.

Fanatisme sepakbola tidak sedikit saya temui pula bukan di lingkungan sekolah saja, namun ketika mereka berselancar di dunia maya. Pada proses pendekatan pada kasus fanatisme sepakbola, mungkin membutuhkan cara yang berbeda dan membutuhkan peranan orangtua lebih menonjol. Tentu, disadari atau tidak, memang betul peran orangtualah yang memiliki porsi lebih besar di sini jika anak sudah menyentuh dan diizinkan bermain di ranah dunia maya.

Kini, lebih dari 30% anak usia 10, sudah memiliki akun Facebook. Sedang peraturan dalam Facebook dalam batasan usia yakni minimal 16 tahun. Berarti Facebook memang diperuntukkan bagi usia remaja sampai dewasa.

Baiklah kita kembali ke sepakbola yang tidak berhenti di situ saja. Ketika anak berselancar dan mulai memilih identitas dalam dunia maya. Sebagian anak tidak ragu untuk memilih identitas barunya dalam dunia yang ia terjuni sekarang di dunia maya. Bukan hanya dengan cara mengubah namanya, yang tentu ini cukup fatal, sebab dengan mengganti nama atau identitas, ia merasa bahwa ini adalah identitas lain dari kehidupan nyata dan memiliki akses yang lain pula dari kehidupan nyata. Tidak begitu saja, peran sepakbola yang biasanya anak tidak bisa bicara bebas di lingkungan sekolah atau rumah, meledak ketika ia di dunia maya, "The Jak Anjing!" misalnya, atau "Persib nu aing." dua kalimat ini yang mudah ditemui pada anak-anak usia Sekolah Dasar di wilayah Bandung yang bisa ditemui di dunia maya. Dari segi penggunaan bahasa saja, ini sudah cukup meresahkan dan hal ini bukan masalah remeh, sebab memang berpengaruh pada kepribadian anak. Tidak itu saja, rasisme yang sudah tertanam sejak dini adalah masalah fatal, saya pernah melihat seorang anak menulis di status Facebooknya, "Drogba goblok, udah item, jelek, mainnya ngawur!" Tentu hal ini sangat meresahkan dan saya mesti menulis hal ini.

Maka, peran guru sekolah tidak berhenti sejak pukul 7 pagi sampai  waktu siang atau sore, ketika  jam aktif sekolah usai.  Namun ketika guru menemukan anak muridnya telah begini, adalah pelajaran yang mesti dihadapi ketika berhadapan dengan murid nanti. Peran orangtua pun sama, tidak berhenti ketika anak memiliki waktu di sekolah saja. Sekolah Orangtua, kita kenal istilah namanya; yakni pertemuan orangtua dan guru di luar jam sekolah anak, agar bisa terus bisa memantau perkembangan anak dan mesti terus berjalan baik yang dilakukan  antara orangtua dan guru yang saling bekerjasama memberikan informasi perkembangan anak; semestinya metode ini berkembang dan diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia. Yang diharapkan, pertemuan ini terjadi, ketika orangtua dan guru sudah menemui permasalahan yang terjadi pada anak, namun dengan adanya Sekolah Orangtua, antara guru dan orangtua bisa dilihat pada setiap perkembangannya melalui analisa dan saling berbagi informasi antara orangtua murid dan guru.

Semoga keprihatinan mengenai fanatisme sepakbola dan penggunaan internet pada anak, bisa membantu seluruh orangtua dan pembaca. Bahwasannya, inilah hal yang kini paling disukai dan mudah ditemui anak, di era mendengar dan melihat (dunia maya dan hiburan) sekarang ini.

Galih Su, 1 Desember 2012

No comments:

Post a Comment