Saturday, December 1, 2012

SITI BINTI SUTARMAN

Siti Binti Sutarman adalah perempuan. Siti adalah unik. Unik di antara keseragaman. Keseragaman yang unik.

Siti seperti nama wajib untuk perempuan di desanya. Orang-orang di desa akan menyebutkan 'Siti Binti Anu' sebagai pembeda dengan Siti yang lain. Nah, kalau saja nama binti-nya kebetulan memiliki nama orangtua yang sama, seperti Siti yang ini -- ternyata ada pula Siti Binti Sutarman yang lain. Maka Siti yang ini, lebih dikenal dengan Siti Binti Sutarman Ehem, saking bingungnya orang-orang mendefinisikan Siti yang ini. Lalu, Siti yang seperti apakah?

Siti Binti Sutarman. Tidak pernah berkebaya, sebagaimana semua Siti yang ada di era hari ini. Tidak seperti namanya yang identik dipakai oleh nama orang di pulau Jawa. Menurutnya sebagai orang Jawa alias keturunan dari tiga provinsi yang ada di pulau Jawa, maka Siti harus selalu patuh tradisi ke-Siti-an seperti Siti-Siti lain yang menjadi manusia nomor dua dibanding manusia-manusia bernama Seto. Tenang saja, Siti zaman kini tidak perlu banyak dikhawatirkan, sebab dunia informasi begitu maju yang menyediakan Siti banyak mempelajari adanya opsi, bukan hanya masalah perkelaminan antara Seto dan Siti, tenang saja.

Namun Siti yang ini, Siti yang sangat berbeda. Ah, kau sekali lihat pun pasti langsung ngeh, ini memang Siti yang nyeleneh dibanding Siti-Siti yang lain.

Siti tidak memiliki kekuatan ga'ib, Siti tidak pakai kemben, Siti tidak bertani, Siti tidak kemayu, Siti tidak bisa main sulap tentu saja. Siti yang ini sih ... keren. Sebut saja, keren independent. Sebab hanya dia sendirilah yang menganggap dirinya memang keren.

Umurnya 15 tahun, Siti segera melabas-diri menuju dunia remaja. Dan pikirannya sedang melambung. Suatu hari ia akan memakai blazer, rok mini elegan yang pantas duduk di kursi kantoran, berkacamata persegi panjang, badan wangi parfum kelas ajibuneng yang mampu membuat para lelaki klepek-klepek. Impian Siti jauh dibanding Siti-Siti berkebaya atau tak berkebaya.

***

Sejak Juni ia sudah masuk SMU, yakni SMU favorit yang letaknya di kota, tentu saja, K-O-T-A, KOTA! Yang jarang nama Sitinya! Bibirnya nyengir, ia lebih Siti lagi kalau ada di City, perkiraannya begitulah menurutnya yang sama sekali tidak malu dengan nama Siti.

Siti Nur! Itu nama lengkapnya, sangat pendek namun ia suka. Menurut ayahnya, Siti Nur punya arti: Perempuan Bercahaya. Ia ingin mengejar cahaya yang bersinar di dirinya sendiri kelak, sebagaimana ayahnya memberi nama yang cantik untuknya, secantik dirinya.

Siti oh Siti, ia ingin menjadi perempuan yang berbeda, perempuan yang bercahaya. Siti kini di K-O-T-A, KOTA! Kira-kira apa maunya? Sedang ia sendiri masih berpikir keras "Apa mau saya?" Selintas terbayang di pikirannya, lagi-lagi: blazer, rok mini, kacamata kotak, badan yang wangi. Semua ia dapat dari seputaran TV, majalah remaja-remaji, timeline  twitter artis anu, facebook dan juga Mbah Google  yang sudah merajang-rejang di desanya.

Sementara, menurut Siti seperti apakah itu yang bercahaya? Ah, mungkin bercahaya adalah kata lain dari keren. Keren independent? Oh Siti yang tak berkebaya, akhirnya kau di kota. Selamat datang di dunia di mana kau bergelut membuat sebuah catatan dan data otentik berbentuk fisik. Ah, aku lupa... kau sangat bersahabat dengan TV, twitter, google dan facebook yang jarang kau sentuh sebagai bagian data otentik; yang bisa saja tutup cerita kalau alamat domainnya pupus atau memupuskan diri.

Tak mengapalah... dunia city memang dunia mode, tak mengapa pula jika yang disebutkan tadi... jadinya pupus semua, pasti ada yang lahir lebih menggemaskan dibanding yang sudah pupus. Semuanya pun bergulir begitu-begitu saja sejak zaman Adam-Hawa, toh dunia lebih seru ketika Habil pupus di tangan Qobil. Ya sudahlah, "Pupus itu penting!" Kata Siti, yang keranjingan informasi di era dunia mendengar dan melihat, ia jadi banyak bertemu dan mencatati data-data berbentuk nyata yang bersaing dengan... data kontrakan alias domain. Seru! Begitu kata Siti, seru....

Jadi. Siti mulai mengerti apa yang paling khas dari city, adalah berbelanja. Tidaklah perlu takut, pikir Siti, berbelanja untuk keperluan diri, toh tidak ada yang merasa dirugikan dengan membeli dari penjual, sebab sesuatu yang dijual toh fungsinya memang untuk dibeli. Semua di desa pun, sama, seperti SI-AY-TI-WAY, CITY!, semuanya didapat dari membeli kok. Jadi Siti belajar untuk menang di city,  menang sebagai pembeli katanya, ia akan belajar membeli dan tidaklah perlu ragu, ia akan membeli apa yang menjadikannya ada. K-O-T-A memang seputar membeli ke-ada-an. Begitu pikir Siti. Siti tidak ragu! Ia yakin akan menang, dengan membeli apa yang sekarang ia tabung sebagai ilmu membeli, ketika langkah kakinya memantapkan diri hadir di K-O-T-A, KOTA! Demi gambarannya kelak, gambaran yang sama dengan jutaan pemilik nama Siti. Kemenangan!

Sudahlah, sebagaimana pesan ayahnya ketika ia berkemas menuju kota "Siti, semoga kelak kau bercahaya." Ah Siti, setidaknya ayahmu dan kamu, yakin akan kemenangan dan cahaya dirimu sendiri. Siti harus menang!

Galih Su, 1 Juni 2010.

No comments:

Post a Comment