Saturday, December 1, 2012

RITME

Ritme menenggelamkan wajahnya di baskom berisi air hangat. Begitu setiap pagi hari ia menyadarkan dirinya bahwa ia masih hidup dan masih merasakan wajahnya berada pada air, setiap pagi di kamar mandi yang tidak ia tutup pintunya.

Ia tidak selalu dapat bangun lebih pagi dari ibu-bapaknya di rumah, toh ibu-bapaknya tidak perlu khawatir, sebab sekolah bocah itu tidak jauh dari rumah. Seperti hari ini, ia bangun lebih terlambat dari penghuni-pernghuni rumahnya yang memiliki jadwal harian bangun pagi.

Sekarang, rumahnya sudah tidak ada manusia lagi selain dia, meskipun ini hari Jum’at yang identik bukan hari yang sibuk, ibu-bapaknya sudah pergi bekerja seperti hari biasanya mereka ingin segera pergi dari rumah secepatnya, udara pagi memang nikmat untuk dinikmati tentunya, begitu alasan mereka termasuk Ritme sendiri untuk sebuah pagi.

Ritme mengangkat wajahnya dari air, tersenyum dan mencibirkan bibirnya lalu meniup udara sehingga bibirnya bergetar dengan percik-percik air menyembur dari bibirnya dan ia senang dengan suara yang bergetar dari bibirnya “brrrrrr....brrrrrrr....”, dengan begitu ia tahu bahwa ia sejenis cyborg. Menurutnya, suara “brrrrr....brrrrr....” terdengar seperti mesin. Ia pun setuju kalau ia memang benar-benar mesin, setidaknya begitu seorang anak-anak memiliki imajinasi tentang dirinya.


“Hahhh...” nafas panjang keluar dari mulutnya yang dingangakan lebar-lebar, matanya membuka sayu dihiasi air. Tidak segera membilas badannya dengan air, ia terlebih dahulu memasukkan ujung jari telunjuk tangan kanannya di tengah baskom lalu memutar-mutarkannya sampai ia manyun-manyun saking menikmatinya.

Ritme tidak segera menyudahinya, ia masuk ke baskom terlebih dahulu seperti biasanya, merendam setengah tubuhnya; jelas saja karena baskom memang sempit, kakinya saja hanya cukup untuk berjongkok, ia berkhayal mengenai laut dengan baskom yang sempit.

Sepertinya, Jum’at pagi itu ia tidak membilas tubuhnya dengan sabun dan keluar dari kamar mandi begitu saja. Alasannya? “Sudah segar! Capek ah....” Yah, kurasa memang begitulah perilakunya setiap hari. Ia terkesan membenci sabun, sama hal dengan bocah lain memiliki alasan-alasan yang tidak selalu dimengerti oleh orang lain. Ya, mungkin, tapi begitulah.

***

Kira-kira pukul 06:30, ia telah selesai dan lengkap memakai baju sekolah putih-merah. Hari ini ia baru saja menginjak Kelas 4 SD.

“Siap grak!” ia melapor dengan menegapkan tubuh kecilnya di depan cermin kamarnya, memberitahu bahwa ia telah siap berangkat ke sekolah. Ya, seperti anak-anak lainnya, Ritme menempatkan tokoh dirinya pada setiap benda-benda di sekitarnya untuk ia ajak bicara dengan mulut, gerakan tangan, mata, imajinasi dan nilai-nilai yang dijadikan pesan dari orangtuanya, yang menurutnya petuah tersebut ia tempatkan di hatinya. Tahu atau tidak ia mengenai hati atau di mana letak hati, namun ia tahu pesannya telah ia simpan sebaik mungkin. Yang jelas, ia memenuhi sekitarnya dengan menjadi dirinya sebagai tokoh utama, di mana saja, asal bukan manusia dan hewan meskipun terkadang ia pikir manusia dan hewan lain adalah bagian dirinya, sebab ia berpikiran sama bahwa manusia dan hewan adalah tokoh utama setidaknya bagi dirinya sendiri.

Pukul 06:40. Ritme sudah singgah di tempat duduk kelasnya, tidak di belakang tidak di depan, ia memilih posisi bangku di tengah. Alasannya? Mudah bertanya dan mudah mencontek. Di matanya, guru adalah penerap ilmu pengetahuan dan ia sekaligus juri penilai, maka Ritme dengan sungkan memberitahu siapa dirinya.

Ritme meletakkan tasnya yang berat, tentu saja, sebab berisi seluruh buku mata pelajaran yang tidak ia pilih atau simpan jika tidak ada mata pelajarannya, pokoknya ia bawa begitu saja. Alasannya? Begitulah Ritme memelajari apa yang ada di sekolah, berhadapan dan mengantisipasi keseragaman yang menjadi disiplin, ia malas melakukan kesalahan lalu sebagaimana ia memandang guru, guru akan menilai dirinya dengan mudah, tentu saja, selama satu tahun di setiap harinya terkecuali Minggu ia akan bertemu guru itu selama 5 sampai 6 jam kurang-lebih. Seusai menaruh tasnya, Ritme langsung berlari menuju halaman sekolah dan berbaur dengan kurcaci-kurcaci kecil yang sederhana memperlakukan dunia adalah bagian dirinya sendiri.

Pukul 07:00. Bel berbunyi dan murid-murid berbaris di depan kelas, guru ada di samping pintu kelas membawa penggaris kayu untuk memeriksa kelengkapan seragam dan panjang kuku murid Kelas 4. Ritme teringat dirinya mandi tadi pagi. Ia segera membayangkan keadaan ketika ia mandi, menggetarkan bibirnya “brrrr....brrrr....”

Selama waktu 4 jam ia dan anak-anak lain mengikuti sekolah di hari Jum’at. Ia mengerti bahwa sekolah adalah seni menghapal yang akan ia ucapkan lalu ia tuliskan apa yang ia hapal, ya, harus sama persis.

Pukul 11:00, ia pulang. Ia merasa bukan tokoh utama di sekolah, tokoh utama adalah mata pelajaran, bahkan guru sekali pun menurutnya tidak menjadi tokoh utama, sebab Ritme melihat sisi lain yang baik dari guru seperti orangtuanya di rumah. Dan ia memelajari bahwa adanya perbedaan di sekolah, yakni sekolah tidaklah memberikan ruang untuk Ritme belajar mengenai kehendak. Bahkan pelajaran menggambar dan seni musik pun, seluruhnya berkisar tentang bagus, cukup dan tidak. Guru, adalah yang menerapkan ilmu pengetahuan dan penilai sekaligus, begitu pikirnya. Ia menjadi pintar atau bodoh terjadi sangat jelas di sekolah, hanya saja bocah lebih memilih diam, atau belajar untuk diam? Semua didasarkan oleh penguasaan mata pelajaran, peraturan tetaplah peraturan, secara tidak langsung Ritme pun memilih diam.

Ritme adalah salah satu dari sekian banyak manusia cilik yang ingin bebas pada sifat awalnya, tahun-menahun ia mengubah dirinya menjadi mesin patuh yang mudah berkata “Ini sesuai dengan tujuan bersekolah, dan itu tidak.” Bahkan berlanjut, ketika ia pulang, ia bermain, bahkan ia melakukan sesuatu dalam bentuk apapun. Batasan-batasan mulai terbentuk lebih terlihat makin jelas bagi Ritme. Ritme semakin hari memiliki ritme yang sibuk namun semakin membatasi sisi liar yang dimiliki setiap diri anak-anak.

***

Hari ini, Ritme tidak lagi Kelas 4 SD.

Lebih dari 20 tahun ia hidup dengan sekolah. Kini ia seorang pekerja di sebuah perusahaan, dan selalu ia hadiri di setiap pagi harinya. Ritme menutup matanya, “brrrrr....brrrrr...brrrr.....” bibirnya bergetar. Begitulah ia menilai dunia kini, ia bukanlah sosok tokoh, bukan siapa-siapa, seperti jutaan manusia menilai manusia lain dan anak-anak lain menilai keseragaman adalah sesuatu yang baik seperti keseragaman di sekolah “Keseragaman adalah sesuatu.” Tokoh utama untuknya hingga kini, adalah kertas-kertas dan mata pelajaran sekolah yang ia dapat lebih dari 20 tahun.

Ritme menghentikan getaran bibirnya dan membisik pada dirinya sendiri, “Hasil imajinasi siapakah ini?” ia menggetarkan bibirnya kembali, “brrrr...brrrr....brrrr....” Ritme terdiam sejenak, dan menyunggingkan bibirnya.


Galih Su, 13 Juni 2009

No comments:

Post a Comment