Saturday, December 1, 2012

MINGGU DAN HADIAH

Minggu pagi yang cerah, sebagaimana biasanya. Si kecil terbangun semangat dari tempat tidurnya, meloncat tergesa, suaranya nyaring terdengar “Sudah bangun! Selamat pagi, ibu!”

Rambutnya tidak tertata rapi, kaus singlet yang kusut, celana pendek yang sedikit kedodoran membuatnya sibuk membenarkan sembari berjalan dengan langkahnya yang sempoyongan, mengucek-ucek matanya, menuju halaman belakang, matanya saja belum sempurna benar terbuka, ia bernyanyi lagu yang baru setiap kali ia bangun, lagu dengan nada dan lirik yang diiramakan semaunya sendiri Aku bangun, bangun, bangun, bangun… mau kencing, kencing, kencing.

Menikmati kencing di tanah halaman belakang, ia bernyanyi melanjutkan lagu dengan irama yang masih sama dan dibuat-buat dengan riang Gambar, gambar, gambar kucing dari kencing… kucing, kucing, kucing, kucing nakal suka kencing-kencing. Minggu pagi dalam pikirannya, seperti hari-hari lain, dunia tidak pernah kesepian, tidak seperti aku yang melihat dunia ramai dalam diri ini merasa sepi, manusia dewasa selalu mencintai ikatan dan menyayangi yang sudah terjadi; seperti aku dan suami atau aku dan anak, bukan seperti si bocah yang mengikatkan diri pada objek-objek bebas dan menikmati apapun, seperti semua anak-anak seharusnya. Dunia, sudah menjadi bagian dari diri bocah cilik ini.


Hari ini, si kecil ulang tahun. Sabtu hari lalu, aku membelikannya hadiah. Kali ini bukan hadiah dongeng spesial yang aku ceritakan seperti tahun-tahun lalu.

Aku mencium rambutnya yang bau keringat khas bocah, rambut yang sedikit basah setiap bocah ini bangun tidur. Ia membenarkan celananya, “Aku sudah kencing! Nanti siang, jangan lupa dongengnya ya, Bu!” Hari Minggu, seperti jadwal yang ia tetapkan khusus untuk mendengar dongeng yang diwaktukan secara khusus pula denganku. Aku senang, meskipun terkadang aku kehabisan bahan ceritera, namun aku tidak pernah khawatir, sebab bocah ini pasti akan bertanya banyak jika dongengku mulai tersendat dan ide-ide baru pun muncul, ia akan tersenyum, sebetulnya dialah yang mendongeng sebab aku hanya meneruskan apa yang ia minta ceritakan. Terkadang pada satu minggu ke depan ia masih mengingat dengan sangat sempurna dan aku sudah lupa samasekali.

Siang hari, sekitar pukul 10. Jadwal harian Minggu setelah ia menonton film kartun kesukaannya. Ketika aku sibuk menyetrika pakaian, ia menggandengku dengan semangat yang tentunya tidak bisa aku tolak. “Sudah, bu, nanti saja. Dongengnya dulu!” Dengan pasrah segera aku merapikan baju sekadarnya, “Tunggu yah, ibu bawa hadiah buatmu.” Ia terdiam ketika aku beranjak pergi menuju kamarku, segera sepertinya ia mengingat hari apa gerangan sekarang, menjawab girang “Waah! Hadiah ulang tahun ya, Bu? Wih…!”

Segera ia mengikutiku, berdiri menunggu di depan kamar penuh senyum dan lagi-lagi bernyanyi lagu dengan nada sembrono Ibu beli hadiah, pastilah harganya murah-murah, sebab ibu pelit. Aku tertawa, dan kujawab “Kamu, tau saja!”

Ia langsung menggandengku ke halaman belakang, mencium keningku dan membuka kado dengan cepat-cepat. “Wah! Robot!” ia memandangi lama sekali hadiah yang aku beri, lalu ia melihatku lama. Dan ia berkata dengan kalimat yang akan terus aku ingat jika ia nanti sudah dewasa, “Ibu, robot ini bagus.” lalu melanjutkan kalimatnya “Tapi, terlalu bagus, Bu. Robot ini lebih bagus daripada dongeng ibu, kalau sudah bagus terus aku tau kalau ini robot, aku harus cerita dan main apa?”

Lalu, beberapa saat aku terdiam. Mengernyit dahiku memperhatikan mata anakku yang terus melihat arah mataku. Aku mengambil perlahan hadiah yang aku beri dari tangannya, meletakkannya di tanah. Menarik nafas dalam-dalam, dan kini batu di tangan kiriku, sapu ijuk di tangan kananku, "Hei! Apa ini batu dan apa ini betul-betul sapu?" Si kecil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya "Bukaaaan!" Anakku menyahut riang.

Haha, ini seperti hari Minggu biasa, dengan alat-alat yang jauh tidak sesempurna robot.

- Galih Su, Pagi 6 Maret 2010. untuk ibu

No comments:

Post a Comment