Saturday, December 1, 2012

ETALASE

Mungkin, tidak banyak. Namanya etalase. Keputusannya adalah menyediakan yang menjadi kehendak meskipun itu tidaklah lengkap, seperti apa yang disuguhkan di balik kaca bening yang menjadi tubuhnya.

Pilihan hidupnya tidaklah mudah, seperti pilihan-pilihan hidup semua manusia lainnya. Setidaknya, ia mampu menjawab kala itu, ketika pikirannya berulang kali menanya padanya “Apa tujuan hidupmu?” lalu ia menjawab sendiri, “aku memilih menjadi etalase” begitu kata hatinya memantapkan apa yang terlintas tidak hanya sekali dalam pikiran-pikirannya.

Cukup sederhana. Ia hanya menawarkan apa saja yang tidaklah lengkap namun mewakili apa yang menjadi keinginan. Bagi siapa saja.


Kaca bening yang dibentuk balok dengan ruang-ruang yang di dalamnya terdapat informasi, keperluan-kebutuhan-keinginan, mimpi, alat. Wadah, dari banyak alat-alat. Tidak semudah seperti ia pikir, bahwa tulus ternyata menimbulkan banyak keragu-raguan di pikiran-pikiran konsumennya. “Benarkah etalase ini menawarkan sesuatu secara cuma-cuma?”

Pernah suatu waktu, konsumen yang terdesak akan keinginan dan kebutuhan meminta izin padanya untuk meminta yang ia mau. “Ambil saja.” Etalase menegaskan padanya, “ini cuma-cuma.”

Tak lama, ia dikelilingi banyak orang-orang yang ingin akan keinginan, kebutuhan, mimpi dan lain sebagainya. Tentu dengan isi kepala mereka yang hampir sama di dalam pikirnya “apakah benar ini cuma-cuma?”

Semakin banyak saja permintaan-permintaan atau ada pula yang memberikan etalase sebuah keperluan-kebutuhan-keinginan, mimpi. Taruh saja, ambil saja.

Semakin lama pikiran-pikiran etalase dimengerti oleh banyak konsumen dan suplier. Suplier sebagai pemberi yang mirip dengan etalase, menawarkan hubungan yang tidak sebentar, sebab mereka seperti cupumanik informasi dan alat yang sulit habis dan mungkin tak akan pernah habis.

Lalu, sesuai dengan waktu yang tidak menua dan menuakan etalase, ia ada di tengah-tengah hidup konsumen-konsumen yang masih saja berpikiran “benarkah ini cuma-cuma?” Tentu saja, tidak perlu dimengerti lebih jauh, begitu menurut konsumen dan etalase sendiri. Entah sebab apa, yang jelas etalase sendirilah yang mengerti dirinya sendiri.

Di usianya yang matang menjadi etalase dan semua mengerti untuk apa etalase ada. Konsumen-konsumen tidak pernah berubah, suplier tidaklah selalu akan menjadi teman yang selalu ada, waktu dan kepentingan memberikan jeda yang tidaklah sebentar untuk hubungan mereka.

Isi etalase mulai habis. Konsumen-konsumen terus meminta izin dan bebas berbuat apa saja. Etalase menikmati hal tersebut. Suatu hari, ia lelah, pintu etalase mulai ringkik dan alot, sebab terlalu sering dibuka dan ditutup. Ia lelah. Bahkan sulit untuk dimasuki sesuatu oleh suplier sekalipun.

Isinya mulai habis, dan nantinya habis.

Konsumen-konsumen tidak mengenalinya, sebab etalase dikenal tentu dengan perangkat isi, begitu pula ia mengenali dirinya. Pintunya mulai kelelahan, ia pun tidak mengenali dirinya sendiri. Ia lupa siapa dia tanpa sesuatu di dalamnya. Maka pertanyaan itu muncul kembali, “Apa tujuan hidupmu?” ia menjawab ratusan kali “Aku tidak tahu. Yang aku tahu, hanya lelah. Aku butuh etalase.”

- Galih Su, Jelang Maghrib, 27 Mei 2009

No comments:

Post a Comment