Saturday, December 1, 2012

DONGENG KALAPAKU

Ayah berpesan ketika seluruh negeri ini dilanda kebingungan. Ketika melupakan dan memperlakukan rakyat seperti orang yang tidak mengerti apa-apa tentang dunia banyak terjadi pada pemimpin-pemimpin yang dikagumi banyak orang. Ketika kekonyolan dari kekonyolan menjadi sirkus tak lucu dan tontonan yang seringkali membunuh segalanya atas-nama kebebasan berpendapat. Ketika kebohongan dalam berita menjadi santapan yang begitu mudah dipercayai, ketika mempercayai menjadi ada sebab kebohongan yang dimunculkan terus-menerus. Ketika kaum-kaum di Negeri Dongeng mudah untuk disanjung bahwa mereka  bangsa yang kaya. Namun kekayaan Negeri Dongeng didapat dari membeli. Membeli mimpi-mimpi yang sering melupakan mereka tidak sedang bermimpi.

Sedang yang berpikir sederhana ... mengenai isi perut mereka harus terpenuhi dengan hasil pangan yang ramah lingkungan, mereka yang tetap bersetia pada pepohon, air, binatang dan udara, dinilai sebagai kegiatan bagi orang-orang tertinggal --- suatu hari kegiatan ini bisa dihargai dengan nama penghargaan atau menghargai tempat mereka dengan sebutan negeri pariwisata; kegiatan ini sangat menjual berapa puluh tahun lalu, ketika banyak isu pembakaran dan pembantaian terjadi di banyak hutan di Negeri Dongeng. Maka, wisata hadir sebagai gambaran keajaiban bak negeri antah-berantah yang kelak tidak akan ditemui lagi. Semua, hanya dalam permainan. Ayahku di dalam resahnya yang cukup dalam, berkata padaku:

Apa yang kamu lihat kini, kanan adalah kiri, kiri adalah kanan.  Seperti cermin, ia tidak akan pernah berkata jujur padamu, Kalapaku. Kamu akan terus melihat kekurangan dari apa yang kamu lihat, tidak akan pernah cukup. Jika kamu mencoba menyempurnakan dirimu, sebenar-benarnya cermin sudah memperdaya apa yang ingin kamu sempurnakan.


17 tahun yang lalu. Di saat beberapa bagian dunia negeri dongeng mengalami anjloknya perbedaan miskin dan kaya. Di saat negeri dongeng mulai kehilangan dongeng-dongeng dan diganti dengan tawaran-tawaran kecantikan diri di berbagai penjuru sebagai kisah baru mengenai jual-beli mimpi; sayangnya dalam jual-beli, raja adalah pemilik modal yang tidak menginginkan pembelinya dalam rasa puas yang panjang. Dan cerita baru mengenai jual-beli mimpi pun sudah berakhir, kini hanya puing-puing di atas bumi yang menguap dipanggil panas matahari, segalanya habis dalam jual-beli. Hanya tersisa mimpi.

Oh Lang tempatku yang indah, dengan tanah yang subur dan segala ramah-tamah khas penduduknya. Keramahan yang selalu dapat dijumpai bila kamu pergi ke tempatku. Di setiap sudut desa yang selalu dihiasi senyum. Mereka bertani dan saling menyapa siapa saja yang mereka temui.

Sawah-sawah yang luas, dilewati sungai dengan air jernih yang mengalir tenang, suaranya penuh mengisi desa itu dengan gemericik diseling suara angin. Nah, jika kamu melihat dari utara desa, sungai itu panjang menuju selatan dan berkelok-kelok melintasi desa, hingga ujung sungai tersebut menghilang di Gunung Ageng yang megah, ia terlihat membiru dari kejauhan. Aku berani jamin, tidak ada satu burung pun yang enggan cicit-cuit untuk tanah ini sepanjang harinya.

Sudah bertahun-tahun ayahku Subur dan ibuku Shri yang renta hidup satu atap. Mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Pada suatu malam ibuku bermimpi, ia didatangi anak lelaki. Dalam mimpinya, anak itu memohon, jika ia kelak dilahirkan, ia tidak diizinkan untuk bercermin. Maka ibuku menyetujui. Satu tahun kemudian, aku lahir.

Sudah puluhan tahun, Shri. Akhirnya yang kita ingin dari Hyang Widhi terkabul sudah. Anak lelaki ini kuberi nama Kalapaku. Sebab manusia selalu menghitung kala, menghitung kehilangan-kehilangan dan membayarnya dengan menghilangkan yang ada. Anakku, kelak kamu paham, mengapa tidak ada cermin ketika kamu ke dunia.

Aku mengenang ucapan-ucapan ayah. Ketika aku berusia 12, kekeringan melanda seluruh Negeri Dongeng. Di saat seperti ini, ayah berpulang, ia mewasiatkanku amanat untuk menggantikannya menjadi Pemimpin tanah ini.

Lima tahun berlalu, aku genap 17 tahun. Seluruh negeri saling sikut, saling hasut, hingga kita semua hancur. Namun tidak untuk tanahku Lang. Kebutuhan perut dan juga ketertinggalan yang dahulu disebut negara yang kolot dan tidak mengikuti kemajuan dunia, justru saat ini hasil bumi kami jadi rebutan. Seluruh negeri kelaparan. Tambang-tambang gas dan besi menipis, tanah cokelat basah berubah kering dan mudah panas. Tanah ladang dan pesawahan di segala penjuru terlalu sempit untuk tanah gembur berusaha bernafas, limbah industri sudah menyerap lebih dari ribuan kilometer tanah-tanah di Negeri Dongeng. Tak sempat pula teknologi menahan marah tanah yang menguap kekurangan air, teknologi hanya mampu memanggil air datang dan tidak mampu menciptakan air. Seluruh penjuru negeri dongeng dilanda carut-marut masalah perut, dan berkembang jadi masalah yang tidak masuk akal.

Kami seluruh penduduk dunia negeri dongeng hari ini, lapar. Kemarau panjang melanda negeri-negeri dongeng 5 tahun lamanya. Beberapa negeri mengalami kepunahan makhluk hidup termasuk penduduknya, banyak tanah kian berkerak-kerak, air-air sungai semakin surut, angin hangat membuat hampir seluruh manusia menjadi malas dan mengeluh.

Pada 5 tahun terakhir, tanahku memiliki harta yang melimpah. Berbagai penjuru tempat di dunia membeli hasil sandang–pangan–papan dari sini. Hal yang sangat miris, ketika kekayaan itu melimpah, justru orang-orang dari tempatku tidak mampu membeli kebutuhan yang dapat diambil dari berbagai tempat lain di Negeri Dongeng, sebab tanah lain sudah tidak memiliki kekayaan yang mampu mereka tawarkan. Bahkan untuk gas, kayu, besi, nuklir, listrik, atau air. Wajar saja jika pada titik ini aku berkata Apalah artinya kekayaan melimpah ruah, jika aku sendiri tak mampu membeli apapun yang ada di dunia. Dunia sudah pada titik miskin dan tidak mampu berbuat apa-apa.

Matahari terik, dataran semakin meluas, air laut menjadi semakin asin. Ternak-ternak kurus, lalat-lalat berpesta di atas bangkai anjing peliharaanmu, serangga muncul kian banyak, semakin sedikit ladang hingga batang pepohon sempat menjadi makanan pokok, dan akhirnya kita semua digiring untuk punah.

Ibuku menjaga selama tujuh-belas tahun dari cermin, begitupula dengan penduduk semenjak kelahiranku di tanah ini. Ini adalah penglihatan ayahku ketika ibu mengandung. Untuk membuat dongeng yang benar-benar bukan dongeng untuk anaknya sendiri. Ketika ia membutuhkan pengganti yang mampu dipercaya oleh seluruh rakyatnya ketika dalam masa sulit. Ketika penduduk mengalami kebingungan, dia merencanakan pemimpin yang bersih dari kebingungan dan bersih dari keinginan diri yang dipacu oleh kepentingan.

“Dunia sudah dibuat renta, bukan benar-benar sudah renta,”  Ibu berkata setengah membisik dan mendekat padaku, “kita di tengah lapar dan tidak memiliki apa-apa dalam waktu hanya beberapa tahun,  bumi sudah kehilangan kehidupannya sendiri. Aku ingat ketika aku mengandung, ayahmu berpesan Dunia sudah memiliki tanda-tanda bahwa ia di tengah sulit. Aku sudah benar renta, Shri. Jika kelak anak ini lahir, jangan pernah sekalipun kau mengenalkannya cermin. Agar orang-orang di tanah ini setidaknya memercayai bahwa masih ada yang mampu mereka percayai. Semoga kamu mengerti apa yang ayahmu maksud.”
Dunia hanya tinggal menunggu waktu untuk segalanya kembali habis dan dimulai kembali setelah kita punah. Dan, selama tujuh-belas tahun tanpa cermin adalah agar aku dapat bercermin dengan apa yang aku lihat. Pikirku “Bagaimanapun juga, seluruh tingkah-polah yang kulihat adalah cermin.” Nyatanya hidupku adalah cerita yang sudah disusun baik oleh ayahku, pesan semirip dongeng dalam mimpi ibuku tidak benar-benar ada dan menjadi ada.

Kanan adalah kiri, kiri adalah kanan. Cermin tidak akan pernah berkata jujur padamu, Kalapaku. Kamu akan terus melihat kekurangan dari apa yang kamu lihat, tidak akan pernah cukup. Kanan adalah kiri, kiri adalah kanan. Yang mana, Kalapaku? Itu bukan pilihan.


Galih Su, 22 Januari 2008.

No comments:

Post a Comment