Saturday, December 1, 2012

CATATAN KECIL, MENGINGAT: GADIS RASID

Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian

burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang "aku"

Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku

-mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
mari kita lepas jiwa mencari jadi merpati

Terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat

-the only possible non-stop flight
Tidak mendapat.

(Buat Gadis Rasid; Chairil Anwar, Ontologi: Yang Terampas dan Yang Putus, 1949)


Sayangnya tidak banyak catatan mengenai tokoh perempuan yang satu ini: Gadis Rasid. Adalah satu tokoh yang mesti diingat dan dicatat dalam sejarah perempuan pejuang Indonesia yang tidak boleh dilupakan. Ia adalah salah satu tokoh penulis dan jurnalis ternama di era 1940an sampai generasi era 1980an, seorang intelek, pejuang tangguh, pemuja Sutan Syahrir dan Bruno Kreisky (yang mana keduanya ialah seorang sosialis).

Gadis Rasid adalah pendiri Harian Sinar Baroe, bersama Hetami dan Parada Harahap di zaman penjajahan Jepang, di Harian Sinar Baroe beliau mengelola rubrik Taman Kanak-Kanak, di rubrik asuhan Gadis Rasid inilah Taufiq Ismail cilik terinspirasi menjadi seorang penyair. Gadis Rasid pun menjadi kontributor tetap di majalah Dunia Wanita pada era akhir 40an. Ya, data mengenai tokoh perempuan yang satu ini, memang agak sulit, ia pun tercatat dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari oleh Ajip Rosidi, dan Sejarah Kecil Volume 4 oleh Rosihan Anwar.

Beberapa penulisan berbentuk buku, karya Gadis Rasid yang cukup terkenal yakni: Maria Ulfah Subadio, Pembela Kaumnya (Bulan Bintang, 1982), dan Sutan Takdir Alisjahbana yakni: 10 Buah Interviu Berbagai-Bagai Soal Kebudajaan: Di Tengah Perdjuangan Kebudajaan Indonesia (Pustaka Rakjat, 1949)

Gadis Rasid adalah wartawan yang pernah memegang kemudi surat kabar Siasat, di masa inilah Chairil Anwar menulis kekagumannya pada beliau dalam sajak Buat Gadis Rasid (Yang Terampas dan Yang Putus, Chairil Anwar, 1949) sebagai wartawan tangguh. Di edisi perdana Siasat Gadis Rasid menulis percakapannnya dengan menteri PPK Mr. Soewandi Pembangunan Dimulai dari Pengajaran. Di Dunia Wanita 31 Agustus 1949 berjudul Pelukis Wanita dengan Mata Anak tentang pelukis bernama Emiria Sunasadan sebuah artikel lagi dalam edisi No. 8 1 Oktober 1949  berjudul Kartini dan Nurdewi.

Ia memang banyak menulis di berbagai surat kabar selain Siasat, yakni di surat kabar nasionalis Pedoman Rakjat (surat kabar yang didirikan oleh suami Gadis Rasid, Henk J. Rondonuwu, yang dinikahinya pada tahun 1950), yang masih satu kantor dengan Siasat. Seperti yang tercatat pada Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari, Gadis Rasid pun menulis untuk surat kabar Belanda Neiuwe Rotterdamse Courant

Setelah surat kabar Pedoman dilarang terbit pada tahun 1966, ia bekerja di berbagai lapangan, di antaranya di Kantor Perwakilan PBB di Jakarta sambil mengajar di Sekolah Tinggi Publisistik dan Akademi Penerangan. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan lepas untuk berbagai penerbitan asing seperti New York Times, Time, Life, London Times, UPI dan lain-lain. Dia pun pernah bekerja di Brooklin Institute di Washington D.C, Amerika Serikat, sebagai asisten peneliti.

Sekembali dari Amerika tahun 1967, Gadis masuk dalam dunia penerbitan buku yaitu sebagai anggota direksi penerbit Djambatan. Meski, di samping itu ia bekerja di Badan Sensor Filem dan membantu surat kabar Pedoman yang terbit lagi (1969-1974), Indonesian Observer dan Neiuwe Rotterdamse Courant, sejak saat itulah dunia kepenulisan bukunya semakin berkurang. Dan setelah itu ia bekerja sebagai sekretaris di IKAPIpada tahun 1970an.

Dalam cuplikan sajak Buat Gadis Rasid karya Chairil Anwar: Bangsa muda menjadi, baru bisa bilang: aku -- Terbang, mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat -- The only possible non-stop flight, tidak mendapat. Ya, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, terkadang kita mesti berhenti agar yang muda mengingat dan terus memelajari yang sudah pernah diukir oleh orang-orang sebelum mereka, bukan begitu Tante Gadis? Semoga, dengan saya mengingatkan kembali dengan menyanyikan sajak Buat Gadis Rasid, bangsa muda menjadi... bisa bilang: aku, oleh semangat Tante yang bisa menular.

Gadis Rasid sudah membuktikan pengabdiannya sampai akhir hayatnya. Gadis Rasid meninggal pada 28 April 1988, tepat di tanggal yang sama dengan kematian Chairil Anwar 39 tahun sebelumnya.

- Galih Su. 22 Agustus 2012.

Sumber:

Kerikil Tajam dan Yang Terampas Dan Yang Putus; Chairi Anwar, Dian Rakjat, 1949 
Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari; Ajip Rosidi, Gramedia Pustaka Utama, 2010
Petite Histoire Indonesia: Volume 4; Rosihan Anwar, Kompas, 2010
http://intisari-online.com/read/selamat-ulang-tahun-intisari; Rosihan Anwar, 2003
http://baltyra.com/2011/07/31/maaf-chairil-anwar-saya-sayang-gadis-rasid/; Iwan Satyanegara Kamah, 2011

No comments:

Post a Comment