Saturday, December 1, 2012

ADA SENYUM UNTUK ANAKKU, ABDUL

"Putus! Putus! Putus! Putus!" teriak bocah dengan hiasan ingus yang kering-mengkristal di bawah hidungnya, melempar wadah-senar begitu saja di lapang hijau dipenuhi rumput, segera disambut kaki rampingnya yang sontak bergerak cepat. Puluhan anak lain menyahut dengan gerakan serupa. Layang-layang lunglai tak berempunya menggiring puluhan lelaki kecil rela melepas sandal tergesa-gesa. Berbagai macam kata umpatan membuncah dari mulut-mulut kecil "Minggir!", "Bangsat!", "Anjiiir!", "Guoblok!"

Dari berbagai arah gang-gang siang hari ini, muncul satu per satu bocah lelaki, mereka lari dengan kecepatan kaki yang sekejap seperti melebihi kecepatan Atlit Lari Profesional! Tidak ada aturan dalam lomba lari yang satu ini. Saling menarik baju kawan mereka sampai bodol, menjenggung kesal sebab dibayang-bayangi teman mereka yang larinya lebih kencang, menyikut, menjambak, berbagai adegan cepat-sekilas dalam satu alur detail mereka yang sama: lari! Plus melompati pagar dengan sigap hampir tanpa melihat ada apa di depan mereka, tersandung, ada yang membuat anak balita menangis sebab tertabrak dan akhirnya tidak melanjutkan lomba lari kini sibuk bertanggungjawab mendiamkan si bocah, ada yang menyambar begitu saja sengget pemetik buah mangga dari entah milik siapa sebagai galah untuk memperebutkan layangan yang hanya memiliki nilai rata-rata seharga seribu perak -- mata mereka seperti tidak berkedip dalam alunan lari, tertuju satu: layang-layang.


Waktunya tidaklah lama, namun berbagai situasi dalam lari adalah detail yang tidak mudah sebagai inti dari seni berlari yang satu ini. Layang-layang menggiring mereka menuju pesawahan; meloncat, tersungkur tidak lupa menarik baju kawannya hingga ikut terjerembab berbalut lumpur, segala perkelahian kecil terjadi dalam hitungan sepersekian detik dan kembali berlari susah-payah. Pembawa sengget berhasil meraih senar, salah satu anak melompat meraih benda berujud kertas persegi empat, tiga kawan lainnya segera melompat pula meraih layangan yang baru saja dimiliki sepersekian mikrodetik, akhirnya empat lelaki kecil ini jika dijadikan slow-motion dengan segala ekspresi wajah yang aneh bergerak lambat menyatu menuju air keruh dan cipratan lumpur; tidak lupa layang-layang pun sudah ikut mandi bersama mereka. Layang sudah tidak berbentuk lagi. Puluhan anak menghentikan lari, sebagian terjatuh dan tertawa terbahak-bahak. Pesta lari usai dengan pertengkaran absurd dari jagoan-jagoan cilik ini. Yang lain? Tertawa terbahak-bahak, sebagian beranjak pulang, sebagian tetap diam di sana menikmati tontonan menarik sebagai pelepas lelah.

Salah satu anak yang berjalan pulang dengan tawanya yang tidak henti adalah Abdul. Pemilik layangan putus, Abdul si ingus kering-mengkristal. Anak ini langsung disambut rangkulan dari kawannya yang masih tidak bisa menahan tawa. "Dul, layangan butut buatanmu laku keras! Masa kok bisa-bisanya jadi bahan rebutan?" Abdul dan temannya menjawab dengan tawa terkekeh-kekeh memegang perutnya dengan kepalanya menggeleng-geleng sampai ia terduduk jongkok. "Bocah-bocah guoblok!" Abdul berkata puas.

***

Kerjanya satu minggu ini hanya membuat layangan. Ia hampir tidak peduli dengan sekolah. Ayahnya yang sudah tua pun seperti tidak terlalu peduli dengan hal tersebut, sebenarnya resah. Ayahnya sering berkata "Layangan terus tho, Dul?" ujarnya dengan nada khas lelaki tua yang seperti enggan bicara dengan irama cepat, sambil sibuk memahat balok kayu panjang untuk bingkai pintu pesanan tetangganya yang sedang membuat rumah. Satu minggu pula Abdul tidak sekolah. Setiap pagi, sibuk berkeliling kampung membawa golok memilih batang bambu, mengumpulkan sisa-sisa kayu tidak terpakai dari pahatan ayahnya untuk dijadikan wadah-senar dan membeli kertas minyak di siang harinya. Pekerjaan satu minggu ini sekiranya sangat membuatnya kewalahan menerima pesanan dari kawan-kawannya dan juga warung-warung di kampung. Bisa puluhan yang mampu ia buat jika ia tidak tergoda untuk ikut bermain layangan dan tetap menyibukkan diri.

Abdul adalah anak semata wayang dari isteri ke dua seorang kakek yang adalah ayahnya, ibunya 2 tahun lalu sudah tiada akibat TBC, begitu pula dengan ibu tirinya yang sudah lama tiada sebab memang sudah tua; ibu tirinya lebih tua dibanding ayahnya. Abdul sering menerka-nerka bahwa ayahnya memang seorang perayu ulung ketika muda yang bisa menggaet putri kepala desa ketika ia remaja yang jauh lebih tua dibanding dirinya. Apalagi terbukti ia pun bisa menggaet ibunya yang sangat jauh lebih muda. Yah, meskipun entah ada cerita unik apa di balik itu? Yang jelas ayahnya hanyalah seorang kuli bangunan dan tukang bebersih halaman tetangga jika diminta. Jika selidik punya selidik, usianya cukup renta untuk seorang kuli. Tidak bisa dihindari, memang masalah ekonomi. Apalagi ia kini memiliki seorang anak, harapan satu-satunya, yang ia sayangi, si kecil di usianya yang renta. Apa daya seorang tua yang sudah tidak bertenaga banyak dan ia sadar betul bahwa pekerjaan yang datang pada dirinya adalah banyak dari rasa iba.

Ketika malam datang, bersama Abdul sepulang dari Tajuk. Sang ayah khusyuk mendengarkan anaknya mengaji. Pikirannya melambung, sekilas bayangan ceria Abdul yang tertawa puas merakit layangan melintas. Ada senyum bahagia yang pahit. Ada senyum pahit dengan nada nyanyian mengaji, di tengah suasana rokok linting, suara-suara jangkrik. Ayah mengangguk menikmati lantunan tenang anaknya mengaji.

Ayah berbisik pelan dalam kulum senyumnya "Abdul, buat dan kejar layangannya..." di antara malam lantun mengaji dan suara jangkrik. Kepulan asap rokok linting yang bertengger di semat jari lelaki tua ini, tak pernah betul diisap.

Jangkrik dan suara ngaji.

- Galih Su. 18 Juli 2010. Untuk sahabat semasa kecilku, Abdul "Duloh" Rahman.

No comments:

Post a Comment